MENJAGA LAUT MARIADEI
Dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan Alam
Semesta
Sejak
dahulu masyarakat Mariadei di Kabupaten Kepulauan Yapen menangkap ikan secara
tradisional. Cara-cara tradisional ramah lingkungan serta kearifan-kearifan
serta nilai budaya merupakan hal yang permanen didalam mengelola potensi laut
yang ada. Akhir-akhir ini kita banyak mendengar, mengikuti bahkan mungkin juga
menyaksikan berita baik melalui media cetak maupun elektronik bahwa bangsa Indonesia
merupakan basis dari nelayan asing melakukan penangkapan ikan secara illegal.
Kegiatan ini bukan saja sangat tidak bersahabat tetapi juga menghancurkan
habitat dan komunitas. Baik terumbuh karang serta ekosistim laut secara
simultan. Dan yang lebih menyedihkan lagi karena bukan hanya para nelayan asing
yang melakukan kegiatan tak terpuji seperti itu. Warga masyarakat setempat yang
seharusnya menjaga serta melindungi laut yang merupakan kehidupan mereka malah mengadopsi
teknologi menangkap ikan yang tidak benar dan tidak tepat seperti menggunakan
bom dan potassium.
Padahal
cara tradisional serta bersahabat dengan alam sudah biasa dilakukan oleh hampir
seluruh masyarakat Papua yang tinggal di pesisir dan kepulauan seperti
memancing dari atas perahu dengan menggunakan tali pancing, nilon, ataupun kail
dengan timah sebagai pemberat untuk memancing ikan di dasar laut. Khusus ikan
tuna atau cakalang dan tenggiri, digunakan umpan yang dibuat dari tali rafiah
yang dihaluskan dan diikat pada kail. Memang hasilnya tidak seperti yang
dihasilkan bila menggunakan bom, tetapi cara tadisional jelas lebih baik,
karena bukan saja mendapatkan hasil tetapi juga menjaga kelangsungan makhluk
hidup laut yang dari sanalah masyarakat di pesisir dan kepulauan menggantungkan
hidupnya. Masyarakat Mariadei mencoba mempertahankan cara-cara tradisional.
Mereka bukan saja memancing dengan menggunakan peralatan yang biasa digunakan
menangkap ikan, mereka juga membangun keramba-keramba yang berfungsi sebagai
jebakan ikan. Ikan masuk ke dalam keramba pada saat air pasang namun tidak
dapat keluar saat surut. Ikan-ikan dalam keramba diambil oleh para nelayan menggunakan
serok atau tangguk yang dibuat dari jaring atau jala yang telah dijahit. Cara
lain menangkap ikan secara tradisional dikenal dengan nama “molo”. Nelayan
harus menyelam dan kemudian menembak ikan menggunakan senapan yang terbuat dari
kayu. Peluru senapan ini adalah kawat yang dapat dilontarkan dari senapan.
Nelayan yang menggunakan cara ini disebut “tukang molo ikan”. Dalam
berburu ikan di dalam air mereka menggunakan kaca molo atau kaca selam untuk
melindungi mata.
Ada cara unik lain dalam menangkap ikan
yang sudah sering dilakukan masyarakat Mariadei yaitu memancing dengan kail
tanpa umpan yang biasanya disebut “bacigi”. Bacigi hanya dilakukan untuk
menangkap ikan yang hidupnya dalam koloni besar dan berenang dekat permukaan
laut. Bagi masyarakat Mariadei mencari bia pada saat air surut atau “meti
besar” merupakan suatu kepuasan tersendiri. Karena pada saat itu tercipta
suasana agak berbeda dari keseharian. Seolah lepas dari rutinitas sehari-hari
pada saat seperti itu dapat ditemui para
kaum muda, anak-anak, bahkan orang tua saling menyapa, bersenda gurau
sambil mencari bia. Suasana kekeluargaan seperti ini telah berlangsung sekian
lama. Dan disinilah sangat terasa kehidupan saling peduli, saling menghargai
serta semua seolah menyatu dalam satu kesibukan yaitu mencari bia. Sekali-kali
terdengar canda gurau, sapaan hangat penuh persaudaraan sehingga membuat acara
mencari bia menjadi sebuah ritual kekeluargaan yang sangat meriah. Kehidupan
sosial selayaknya memang harus seperti demikian dan harus tetap dijaga serta
dilestarikan sama persis seperti menjaga alam sekitar. Selain cara menangkap
ikan masyarakat Papua juga mengenal “budaya sasi”. Sasi adalah aturan
dan larangan mengambil hasil bumi bagi seluruh penduduk kampung selama jangka
waktu tertentu yang telah disepakati. Setelah batas waktu yang ditentukan
selesai, dilakukan musyawarah bersama untuk memutuskan apakah hasil laut yang
sebelumnya dilarang boleh dipanen kembali. Sasi biasanya diberlakukan bagi
hasil laut seperti jenis ikan, siput, kerang (bia), lobster dan hasil laut
lainnya yang bernilai ekonomi tinggi. Hal ini dimaksudkan agar populasi jenis ikan,
kerang, udang dan teripang dapat berkembang baik dengan jumlah yang besar
sehingga tetap terjaga dan tidak punah. Apakah kearifan laut Mariadei ini tetap
terjaga ditengah ancaman pemanasan global (global warming)..?! Jawabnya
ini menjadi tanggung jawab semua. Kontributor terbesar pemanasan global saat
ini adalah Karnon Doiksida (CO2), Matana (CH4) dari Pupuk, dan gas-gas yang
digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Mungkin pertanyaan yang
terlintas saat ini: Bagaimana Mungkin ??? Bagaimana mungkin pemanasan global bisa
mengancam kehidupan di planet bumi ? Apa hubungannya dengan Taman Laut kita...?
Pada prinsipnya gas-gas tersebut akan terserap sebagaian ke laut dan fungsi ini
sedikitnya telah mengurangi emisi gas-gas tersebut di udara. Namun ironisnya
volume ini tetap bertambah mengakibatkan hal ini juga tidak dapat lagi disaring
oleh potensi laut. Ekosistem di dasar laut yang dibangun, terutama oleh biota
laut penghasil kapur yakni kalsium karbonat, khususnya jenis karang batu dan
alga berkapur bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar laut seperti
moluska, porifera, dan lain sebagainya. Proses pembentukan ekosistem ini
berlangsung jutaan tahun lalu yang dipengaruhi oleh faktor pergerakan lempeng
bumi, ledakan meteor, periode zaman es, dan kondisi lingkungan pada ribuan
tahun lalu juga turut mempengaruhi. Ekosistem ini akan punah dan tidak akan ada
lagi kehidupan ketika pemanasan global sudah mencapai titik maksimum. Agar laut
kita tetap terjaga maka kearifan lokal harus tetap kita lestarikan dengan tidak
bersikap egoisme dan memberikan sikap penghargaan yang tinggi bagi lingkungan
di sekitar kita. Keteladanan masyarakat Maridei memperoleh hasil dari laut dapat
menginspirasi sebuah gagasan menciptakan keseimbangan pemanfaatan laut sebagai
sumber kehidupan dengan menjaga kehidupan laut itu sendiri demi kelangsungan
hidup yang harmonis antara alam dan manusia.
“ Kearifan Hari ini Menentukan Hari
Depan”
Jolio Cessar S. Numberi, ST

Tidak ada komentar:
Posting Komentar