Selasa, 20 Oktober 2015

KETELADAN


MENJAGA LAUT MARIADEI  
Dan Pengaruhnya Bagi Kehidupan Alam Semesta

Sejak dahulu masyarakat Mariadei di Kabupaten Kepulauan Yapen menangkap ikan secara tradisional. Cara-cara tradisional ramah lingkungan serta kearifan-kearifan serta nilai budaya merupakan hal yang permanen didalam mengelola potensi laut yang ada. Akhir-akhir ini kita banyak mendengar, mengikuti bahkan mungkin juga menyaksikan berita baik melalui media cetak maupun elektronik bahwa bangsa Indonesia merupakan basis dari nelayan asing melakukan penangkapan ikan secara illegal. Kegiatan ini bukan saja sangat tidak bersahabat tetapi juga menghancurkan habitat dan komunitas. Baik terumbuh karang serta ekosistim laut secara simultan. Dan yang lebih menyedihkan lagi karena bukan hanya para nelayan asing yang melakukan kegiatan tak terpuji seperti itu. Warga masyarakat setempat yang seharusnya menjaga serta melindungi laut yang merupakan kehidupan mereka malah mengadopsi teknologi menangkap ikan yang tidak benar dan tidak tepat seperti menggunakan bom  dan potassium.

Padahal cara tradisional serta bersahabat dengan alam sudah biasa dilakukan oleh hampir seluruh masyarakat Papua yang tinggal di pesisir dan kepulauan seperti memancing dari atas perahu dengan menggunakan tali pancing, nilon, ataupun kail dengan timah sebagai pemberat untuk memancing ikan di dasar laut. Khusus ikan tuna atau cakalang dan tenggiri, digunakan umpan yang dibuat dari tali rafiah yang dihaluskan dan diikat pada kail. Memang hasilnya tidak seperti yang dihasilkan bila menggunakan bom, tetapi cara tadisional jelas lebih baik, karena bukan saja mendapatkan hasil tetapi juga menjaga kelangsungan makhluk hidup laut yang dari sanalah masyarakat di pesisir dan kepulauan menggantungkan hidupnya. Masyarakat Mariadei mencoba mempertahankan cara-cara tradisional. Mereka bukan saja memancing dengan menggunakan peralatan yang biasa digunakan menangkap ikan, mereka juga membangun keramba-keramba yang berfungsi sebagai jebakan ikan. Ikan masuk ke dalam keramba pada saat air pasang namun tidak dapat keluar saat surut. Ikan-ikan dalam keramba diambil oleh para nelayan menggunakan serok atau tangguk yang dibuat dari jaring atau jala yang telah dijahit. Cara lain menangkap ikan secara tradisional dikenal dengan nama “molo”. Nelayan harus menyelam dan kemudian menembak ikan menggunakan senapan yang terbuat dari kayu. Peluru senapan ini adalah kawat yang dapat dilontarkan dari senapan. Nelayan yang menggunakan cara ini disebut “tukang molo ikan”. Dalam berburu ikan di dalam air mereka menggunakan kaca molo atau kaca selam untuk melindungi mata.

Ada cara unik lain dalam menangkap ikan yang sudah sering dilakukan masyarakat Mariadei yaitu memancing dengan kail tanpa umpan yang biasanya disebut “bacigi”. Bacigi hanya dilakukan untuk menangkap ikan yang hidupnya dalam koloni besar dan berenang dekat permukaan laut. Bagi masyarakat Mariadei mencari bia pada saat air surut atau “meti besar” merupakan suatu kepuasan tersendiri. Karena pada saat itu tercipta suasana agak berbeda dari keseharian. Seolah lepas dari rutinitas sehari-hari pada saat seperti itu dapat ditemui para  kaum muda, anak-anak, bahkan orang tua saling menyapa, bersenda gurau sambil mencari bia. Suasana kekeluargaan seperti ini telah berlangsung sekian lama. Dan disinilah sangat terasa kehidupan saling peduli, saling menghargai serta semua seolah menyatu dalam satu kesibukan yaitu mencari bia. Sekali-kali terdengar canda gurau, sapaan hangat penuh persaudaraan sehingga membuat acara mencari bia menjadi sebuah ritual kekeluargaan yang sangat meriah. Kehidupan sosial selayaknya memang harus seperti demikian dan harus tetap dijaga serta dilestarikan sama persis seperti menjaga alam sekitar. Selain cara menangkap ikan masyarakat Papua juga mengenal “budaya sasi”. Sasi adalah aturan dan larangan mengambil hasil bumi bagi seluruh penduduk kampung selama jangka waktu tertentu yang telah disepakati. Setelah batas waktu yang ditentukan selesai, dilakukan musyawarah bersama untuk memutuskan apakah hasil laut yang sebelumnya dilarang boleh dipanen kembali. Sasi biasanya diberlakukan bagi hasil laut seperti jenis ikan, siput, kerang (bia), lobster dan hasil laut lainnya yang bernilai ekonomi tinggi. Hal  ini dimaksudkan agar populasi jenis ikan, kerang, udang dan teripang dapat berkembang baik dengan jumlah yang besar sehingga tetap terjaga dan tidak punah. Apakah kearifan laut Mariadei ini tetap terjaga ditengah ancaman pemanasan global (global warming)..?! Jawabnya ini menjadi tanggung jawab semua. Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karnon Doiksida (CO2), Matana (CH4) dari Pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Mungkin pertanyaan yang terlintas saat ini: Bagaimana Mungkin ???  Bagaimana mungkin pemanasan global bisa mengancam kehidupan di planet bumi ? Apa hubungannya dengan Taman Laut kita...? Pada prinsipnya gas-gas tersebut akan terserap sebagaian ke laut dan fungsi ini sedikitnya telah mengurangi emisi gas-gas tersebut di udara. Namun ironisnya volume ini tetap bertambah mengakibatkan hal ini juga tidak dapat lagi disaring oleh potensi laut. Ekosistem di dasar laut yang dibangun, terutama oleh biota laut penghasil kapur yakni kalsium karbonat, khususnya jenis karang batu dan alga berkapur bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar laut seperti moluska, porifera, dan lain sebagainya. Proses pembentukan ekosistem ini berlangsung jutaan tahun lalu yang dipengaruhi oleh faktor pergerakan lempeng bumi, ledakan meteor, periode zaman es, dan kondisi lingkungan pada ribuan tahun lalu juga turut mempengaruhi.  Ekosistem ini akan punah dan tidak akan ada lagi kehidupan ketika pemanasan global sudah mencapai titik maksimum. Agar laut kita tetap terjaga maka kearifan lokal harus tetap kita lestarikan dengan tidak bersikap egoisme dan memberikan sikap penghargaan yang tinggi bagi lingkungan di sekitar kita. Keteladanan masyarakat Maridei memperoleh hasil dari laut dapat menginspirasi sebuah gagasan menciptakan keseimbangan pemanfaatan laut sebagai sumber kehidupan dengan menjaga kehidupan laut itu sendiri demi kelangsungan hidup yang harmonis antara alam dan manusia.
“ Kearifan Hari ini Menentukan Hari Depan”


Jolio Cessar S. Numberi, ST

Tidak ada komentar:

Posting Komentar