“Terbentuk, Terlatih demi Kelestarian untuk Kesejahteraan”
Diperlukan langkah berani untuk
membentuk Kelompok Pencinta Alam. Karena menjadi Kelompok Pecinta Alam atau KPA
bukan sekedar mempunyai motivasi “menyatu dengan alam”, melainkan bagaimana
mencintai, menjaga serta melestarikan alam sekitar untuk kesejahteraan bersama.
Seperti Kelompok Pecinta Alam Cagar Alam Cycloop.
Selama ini Sosok kelompok pecinta alam
terkadang hanya dibatasi oleh bagaimana sekelompok orang melakukan kegiatan di
alam terbuka lalu pulang dengan berbagai ceritera juga kisah perjalanan atau
sekedar sebuah pengalaman “beberapa saat” ketika hidup berbeda di tengah alam
tanpa fasilitas memadai seperti bila tinggal di rumah sendiri.
Untuk itu kali
ini kami mengangkat tentang pembentukan KPA
Cagar Alam Cycloop supaya dapat memberikan inspirasi terbentuknya KPA-KPA lain
dengan dasar pembentukan serta kegiatan yang benar-benar terarah bahkan mampu
dievaluasi sebagai sebuah pertanggunganjawab identitas sebuah Kelompok Pecinta
Alam.
Pegunungan
Cycloop memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi serta merupakan
sumber plasma nutfah dan habitat dari beraneka ragam flora dan fauna. Pegunungan Cycloop untuk pertama kali
ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi
oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1954 dan terus diperbaharui oleh
Pemerintah Indonesia terakhir berstatus sebagai Kawasan Cagar Alam Cycloop .
Keberadaan
Pegunungan Cycloop memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di Kota
Jayapura dan Kabupaten karena merupakan sumber utama ketersediaan air bagi
seluruh daerah pemukiman di sekitarnya.
Pegunungan Cycloop juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air dimana tajuk tanaman hutan dapat menahan
limpahan curah hujan yang tinggi serta meresapkannya ke dalam tanah sehingga
dapat memperkecil laju erosi dan sedimentasi, disamping itu vegetasi hutan yang
ada dapat menjaga stabilitas iklim di wilayah tersebut. Namun saat ini ancaman dan gangguan terhadap
kelestarian Kawasan Cagar Alam Cycloop sangat besar. Hal ini dimungkinkan karena tersedianya
jalan darat beraspal yang menghubungkan Depapre di Teluk Tanah Merah
sampai Kota Jayapura, sehingga memberikan akses yang sangat mudah menuju
kawasan Cagar Alam. Pemukiman penduduk,
perkantoran pemerintah dan infrastruktur lainnya di sekitar Kota Jayapura dan
Sentani yang tumbuh pesat merupakan konsekwensi dari pertumbuhan ekonomi serta
berdampak terhadap kebutuhan ruang. Hal ini merupakan permasalahan yang harus
diantisipasasi dan ditindak lanjuti oleh Pemerintah Daerah. Salah satu program Pemerintah Daerah dalam
rangka mempertahankan keberadaan dan kelestarian Kawasan Cagar Alam Cycloop
adalah “Program Penanaman Pohon Batas
pada Sekeliling Kawasan Cagar Alam Cycloop”.
Keberhasilan program penanaman pohon batas tersebut
tidak hanya ditentukan oleh hal-hal yang bersifat teknis tetapi juga sangat
ditentukan oleh partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan cagar alam.
Agar masyarakat dapat berperan secara optimal
maka perlu dilakukan fasilitasi
peningkatan kapasitas baik teknis kehutanan, kelembagaan maupun akses
terhadap teknologi dan informasi, melalui pembentukan dan pengembangan Kelompok
Pelestari Alam (KPA).
Pembentukan KPA dimaksudkan sebagai mitra pemerintah, khususnya dalam pengeloaan
kawasan konservasi Cagar Alam Cycloop (CAC). Sedangkan tujuan dari pembentukan
KPA ini adalah agar KPA yang
dibentuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan CAC dan
mampu mendorong partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan untuk turut
serta menjaga dan mempertahankan keberadaan kawasan CAC.
Di
samping kelompok tersebut yang telah di bentuk, keberadaan kelompok-kelompok
lainnya yang senantiasa berpatisipasi dalam melestarikan CAC sebenarnya sudah
ada, diantaranya KPA Hiroshi di Sentani. Keberadaan kelompok-kelompok yang sudah ada
ini merupakan pula mitra pemerintah dalam mendukung dan melestarikan CAC dan
telah memberikan andil besar bagi kepentingan masyarakat banyak, khususnya
masyarakat Kota
dan Kabupaten Jayapura.
Kebersamaan
serta adanya pendampingan secara aktif dapat memaksimalkan kemampuan KPA-KPA
dalam meningkatkan kualitas kerja serta program yang dicanangkan. Untuk
dibutuhkan sistem pendampingan yang tidak hanya berfokus pada “pembentukan KPA”,
namun harus juga secara konsisten dan berkesinambungan mendampingi, mengarahkan
serta membimbing sehingga masyarakat yang langsung terjun serta menjadi bagian
dari KPA-KPA tersebut tidak merasa ditinggalkan sebaliknya ada rasa aman,
diperhatikan bahkan adanya keteladanan menjadikan tujuan yang sudah ditetapkan
dapat mudah serta cepat tercapai.
Melakukan
kegiatan melestarikan alam, khususnya Cagar Alam Cycloop memang bukanlah sebuah
pekerjaan mudah. Namun demikian apa yang sudah dilakukan oleh KPA-KPA Cagar
ALam Cycloop dengan di dampingi oleh Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi
Papua dapat memberikan sebuah inspirasi tentang betapa pentingnya ketelibatan
semua pihak untuk mencintai, menjaga serta melestarikan alam sekitar demi
kesejateraan bersama. Sosok KPA-KPA
yang sudah terbentuk dan terus akan berjuang sampai terciptanya keselarasan
alam dan makhluk Tuhan lainnya termasuk manusia merupakan bukti bahwa masih ada
“orang-orang penting” yang peduli
akan kelanjutan hidup generasi mendatang dengan terjaganya bumi ini dari
kerusakan dan kehancuran yang terkadang dilakukan oleh “orang-orang yang merasa dirinya terlalu penting”.
Semakin
banyak terbentuk KPA-KPA akan semakin kecil juga resiko kerusakan alam. Dan
tentunya kelestarian alam berdampak kesejahteraan bersama bukan sekedar
cita-cita namun akan menjadi nyata. Sosok
KPA juga bukan sekedar sebuah “kelompok pencinta alam” namun mengerti sungguh
visi, misi serta kegiatan yang dikerjakan. Dengan demikian, ada sebuah titik
harapan serta pencerahan bahwa bukan saja Cagar Alam Cycloop yang terjaga
tetapi alam Papua , Indonesia bahkan bumi ini dapat
terjaga kelestariaannya.
Siapa
menyusul…?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar