Senin, 19 Oktober 2015

PROFILE KELOMPOK PELESTARI ALAM - CAGAR ALAM CYCLOOP


“Terbentuk, Terlatih demi Kelestarian untuk Kesejahteraan”

Diperlukan langkah berani untuk membentuk Kelompok Pencinta Alam. Karena menjadi Kelompok Pecinta Alam atau KPA bukan sekedar mempunyai motivasi “menyatu dengan alam”, melainkan bagaimana mencintai, menjaga serta melestarikan alam sekitar untuk kesejahteraan bersama. Seperti Kelompok Pecinta Alam Cagar Alam Cycloop. 

Selama ini Sosok kelompok pecinta alam terkadang hanya dibatasi oleh bagaimana sekelompok orang melakukan kegiatan di alam terbuka lalu pulang dengan berbagai ceritera juga kisah perjalanan atau sekedar sebuah pengalaman “beberapa saat” ketika hidup berbeda di tengah alam tanpa fasilitas memadai seperti bila tinggal di rumah sendiri.

Untuk itu kali ini kami mengangkat tentang pembentukan  KPA Cagar Alam Cycloop supaya dapat memberikan inspirasi terbentuknya KPA-KPA lain dengan dasar pembentukan serta kegiatan yang benar-benar terarah bahkan mampu dievaluasi sebagai sebuah pertanggunganjawab identitas sebuah Kelompok Pecinta Alam.

Pegunungan Cycloop memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi serta merupakan sumber plasma nutfah dan habitat dari beraneka ragam flora dan fauna.   Pegunungan Cycloop untuk pertama kali ditetapkan sebagai kawasan yang dilindungi  oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1954 dan terus diperbaharui oleh Pemerintah Indonesia terakhir berstatus sebagai Kawasan Cagar Alam Cycloop . 

Keberadaan Pegunungan Cycloop memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di Kota Jayapura dan Kabupaten karena merupakan sumber utama ketersediaan air bagi seluruh daerah pemukiman di sekitarnya.   Pegunungan Cycloop juga berfungsi sebagai daerah tangkapan air  dimana tajuk tanaman hutan dapat menahan limpahan curah hujan yang tinggi serta meresapkannya ke dalam tanah sehingga dapat memperkecil laju erosi dan sedimentasi, disamping itu vegetasi hutan yang ada dapat menjaga stabilitas iklim di wilayah tersebut.  Namun saat ini ancaman dan gangguan terhadap kelestarian Kawasan Cagar Alam Cycloop sangat besar.   Hal ini dimungkinkan karena tersedianya  jalan darat beraspal yang menghubungkan Depapre di Teluk Tanah Merah sampai Kota Jayapura, sehingga memberikan akses yang sangat mudah menuju kawasan Cagar Alam.  Pemukiman penduduk, perkantoran pemerintah dan infrastruktur lainnya di sekitar Kota Jayapura dan Sentani yang tumbuh pesat merupakan konsekwensi dari pertumbuhan ekonomi serta berdampak terhadap kebutuhan ruang.   Hal ini merupakan permasalahan yang harus diantisipasasi dan ditindak lanjuti oleh Pemerintah Daerah.  Salah satu program Pemerintah Daerah dalam rangka mempertahankan keberadaan dan kelestarian Kawasan Cagar Alam Cycloop adalah “Program Penanaman Pohon Batas pada Sekeliling Kawasan Cagar Alam Cycloop”. 

Keberhasilan program penanaman pohon batas tersebut tidak hanya ditentukan oleh hal-hal yang bersifat teknis tetapi juga sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan cagar alam. Agar masyarakat dapat berperan secara optimal  maka perlu dilakukan   fasilitasi peningkatan kapasitas  baik  teknis kehutanan, kelembagaan maupun akses terhadap teknologi dan informasi, melalui pembentukan dan pengembangan Kelompok Pelestari Alam (KPA).

Pembentukan KPA dimaksudkan sebagai mitra pemerintah, khususnya dalam pengeloaan kawasan konservasi Cagar Alam Cycloop (CAC). Sedangkan tujuan dari pembentukan KPA ini adalah agar KPA yang dibentuk lebih berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan CAC dan mampu mendorong partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan untuk turut serta menjaga dan mempertahankan keberadaan kawasan CAC.

Di samping kelompok tersebut yang telah di bentuk, keberadaan kelompok-kelompok lainnya yang senantiasa berpatisipasi dalam melestarikan CAC sebenarnya sudah ada, diantaranya KPA Hiroshi di Sentani.  Keberadaan kelompok-kelompok yang sudah ada ini merupakan pula mitra pemerintah dalam mendukung dan melestarikan CAC dan telah memberikan andil besar bagi kepentingan masyarakat banyak, khususnya masyarakat Kota dan Kabupaten Jayapura.

Kebersamaan serta adanya pendampingan secara aktif dapat memaksimalkan kemampuan KPA-KPA dalam meningkatkan kualitas kerja serta program yang dicanangkan. Untuk dibutuhkan sistem pendampingan yang tidak hanya berfokus pada “pembentukan KPA”, namun harus juga secara konsisten dan berkesinambungan mendampingi, mengarahkan serta membimbing sehingga masyarakat yang langsung terjun serta menjadi bagian dari KPA-KPA tersebut tidak merasa ditinggalkan sebaliknya ada rasa aman, diperhatikan bahkan adanya keteladanan menjadikan tujuan yang sudah ditetapkan dapat mudah serta cepat tercapai.

Melakukan kegiatan melestarikan alam, khususnya Cagar Alam Cycloop memang bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Namun demikian apa yang sudah dilakukan oleh KPA-KPA Cagar ALam Cycloop dengan di dampingi oleh Dinas Kehutanan dan Konservasi Provinsi Papua dapat memberikan sebuah inspirasi tentang betapa pentingnya ketelibatan semua pihak untuk mencintai, menjaga serta melestarikan alam sekitar demi kesejateraan bersama. Sosok KPA-KPA yang sudah terbentuk dan terus akan berjuang sampai terciptanya keselarasan alam dan makhluk Tuhan lainnya termasuk manusia merupakan bukti bahwa masih ada “orang-orang penting” yang peduli akan kelanjutan hidup generasi mendatang dengan terjaganya bumi ini dari kerusakan dan kehancuran yang terkadang dilakukan oleh “orang-orang yang merasa dirinya terlalu penting”.

Semakin banyak terbentuk KPA-KPA akan semakin kecil juga resiko kerusakan alam. Dan tentunya kelestarian alam berdampak kesejahteraan bersama bukan sekedar cita-cita namun akan menjadi nyata. Sosok KPA juga bukan sekedar sebuah “kelompok pencinta alam” namun mengerti sungguh visi, misi serta kegiatan yang dikerjakan. Dengan demikian, ada sebuah titik harapan serta pencerahan bahwa bukan saja Cagar Alam Cycloop yang terjaga tetapi alam Papua, Indonesia bahkan bumi ini dapat terjaga kelestariaannya.


Siapa menyusul…?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar